PERANG CUMBOK PERANG SAUDARA DALAM CATATAN SEJARAH ACEH - AKSARA SEJAHTERA

Tuesday, January 9, 2018

PERANG CUMBOK PERANG SAUDARA DALAM CATATAN SEJARAH ACEH

PERANG CUMBOK PERANG SAUDARA DALAM CATATAN SEJARAH ACEH



Pendapat yang cukup santer namun sukar untuk dibuktikan adalah bahwa Ulee Balang masih tetap pro Belanda dan masih menginginkan mareka kembali ke Aceh. Ulee Balang di tuduh telah membentuk sebuah comite "van ontvangst" untuk menjemput Belanda kembali.
SM Amin pemimpin perjuangan pada masa revolusi menyangsikan adanya upaya Ulee Balang membentuk komite itu untuk menyambut Belanda. Prof Nazaruddin Syamsuddin juga meragukan issu tersebut.komite itu tidak pernah ada dalam kenyataan. Kemungkinan sekali berita tentang panitia penyambutan itu sengaja di hembus kan oleh kelompok ulama yang anti Belanda dan Ulee Balang.

Dalam rangka inilah unsur Ulee Balang didramatisir sebagai kelompok yang akan menarik keuntungan bila mana Belanda datang kembali ke Aceh, dengan cara demikian diharapkan timbul kembali ingatan rakyat akan dendam kepada Ulee Balang yang pro Belanda, para pemimpin Ulee Balang mulai menyusun strategi untuk memperkuat dan menguasai Cumbok



Para pemuda pesindo ditugas kan untuk mengawal kantor kantor pemerintah di lammeulo.Tentara Ulee Balang di perintah kan untuk menangkap anggota PRI yang ditugas kan oleh pemerintah daerah Aceh untuk menjaga kantor pos dan telpon di lammeulo..akibat nya terjadi lah benturan benturan kecil antara para pemuda PRI dan pasukan Ulee Balang Cumbok.

Pada Tanggal 3 November 1945 Ulee Balang Cumbok mengambil alih kantor PRI Lam Meulo dan sejak saat itu tdk ada pemimpin PRI yang di izin kan berada dan masuk ke Lam Meulo. Tindakan pasukan Ulee Balang mengundang keprihatinan pemda Aceh.untuk menyekesaikan masalah dengan damai ketua KND Tuanku mahnud di kirim ke Lam Meulo.namun tdk mendapat sabutan yang baik dari pihak Ulee Balang.




setelah Lam Meulo berhasil di kuasai Ulee Balang berencana menduduki Sigli. Pada tanggal 25 November 1945 jam 12 Ulee Balang masuk kota Sigli untuk mengambil senjata Jepang yang pada masa itu masih menduduki kota Sigli.
sementara itu PRI dan TKR di bawah pimpinan Syamaun Gaharu dan T Azwar Hamid pun tiba di kota Sigli untuk merunding penyerahan senjata Jepang. Perundingan ini dibocorkan oleh perwira TPR Letnan Abdullah dan Letnan Bakhtiar menceritakan kepada pihak Ulee Balang bahwa Jepang tidak akan menyerah senjatanya kepadaTPR.akibat nya pihak Ulee Balang menyebar pasukannya ke Sigli dan menguasai tempat tempat strategis.banyak orang ditangkap krn di duga sebagai pendukung PUSA.dan orang dari luar di larang masuk kota Sigli.
Dengan menguasai kota Ulee Balang berusaha menguasai senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan lawan.di pihak lain dengan mengetahui bahwa sgli sudah dikuasai oleh Ulee Balang.maka puluhan ribu warga dan simpatisan PUSA nengepung kota untuk mencegah Jepang tidak menyerahkan senjata kepada pihak Ulee Balang. jika senjata ini diserah kan kpd pihak Ulee Balang kekuatan mareka semakin tidak tertandingi
Syamaun Gaharu dan T Azwar Hamid tidak dapat menguasai keadaan.mareka meminta residen T Nyak Arif untuk turun tangan guna mencegah terjadi nya pertempuran kedua belah pihak.Residen mengirim T Ali panglima Polem.tugas delegasi itu bukan untuk mekerai pertikaian antara Ulee Balang dengan warga. 
melainkan hanya berunding dengan Jepang karena menurut mareka puncak pertikaian antara kedua nya berpunca pada masalah senjata Jepang.




perundingan berlangsung tanggal 3 Desember 1945 di pimpin oleh Teuku Ali Panglima Polem untuk menghindari pertumpahan darah mendesak pihak Jepang supaya tidak menyerahkan senjatanya kepada salah satu pihak yang bertikai didesak Jepang agar menyerahkan senjata kepada TKR sebagai tentara resmi RI.

Ketika perundingan itu sedang berlangsung.ketika naskah perjanjian penyerahan senjata sedang di teken.rakyat yang semula sedang mengepung kota Sigli mulai bergerak memasuki kota.maka makin terbuka pula kemungkinan terjadi perang secara frontal dengan BPK (Ulee Balang) yangg tertahan di kota. Dalam usaha mengendalikan gerak rakyat. Syamaun Gaharu melepaskan tembakan peringatan.

Tembakan peringatan dari Syamaun ini mengundang bencana tembakan ini telah menyebab kan salah pengertian antara dua kelompok (Ulee Balang dan Pusa) yang bertikai. pihak PUSA menilai itu sebagai aba aba dari Ulee Balang
sehinga perwira TKR ini melarikan diri dari tempat kejadian.peristiwa ini menyebab kan Syamaun gaharu di tangkap atas tuduhan berkomplot dengan Ulee Balang. akibat kesalaha fahaman tersebut kota Sigli bersimbah darah dua golongan itu terlibat pertempuran yang sengit berlangsung sejak tanggal 4 - 6 Desember 1945 para pemimpin daerah dan TPR dibawah pimpinan Syamaun Gaharu dan T Azwar Hamid berupaya menghentikan pertempuran.akhir nya pertempuran berhasil di hentikan pada tanggal 6 Desember 1945.kedua belah pihak diminta untuk kosong kan kota Sigli

Senjata yang diserahkan Jepang kepada Ulee Balang harus diserahkan kembali kepada TKR sebagai tentara resmi RI. Apabila terjadi kekacauan kedua belah pihak harus bertanggung jawab.inbauan ini mendapat sambutan yang baik dari kedua belah pihak.keduanya setuju menarik pasukan keluar kota Sigli dan pihak Ulee Balang juga setuju menyerah kan senjata yang direbut nya dari Jepang kepada TKR.

Ketaatan terhadap perstujuan bersama ini tidak berlangsung lama.pertempuran tetap terjadi di luar kota Sigli markas Ulee Balang tidak mengembalikan senjata Jepang kepada TKR Pada tanggal 10 Desember 1945.markas Ulee Balang mengadakan pertemuan di Rumah Teuku laksamana Umar Njong di Leung putu guna membahas langkah langkah lebih lanjut terhadap perkembangan situasi

Pertemuan Leung putu mengakibatkan markas Ulee Balang berindak tegas. maereka mendirikan badan kelaskaran di bawah pimpinan Teuku Muhammad Daod ule balang Cumbok. Mereka mulai menyerang kampung-kampung basis kekuatan musuhnya. Markas Ulee Balang akan menindak tegas terhadap penentang gerakan mareka diharapkan akhir Desember rencana sudah terlasanakan.
Dengan senjata berat yang mareka miliki tentara Ulee Balang pada tanggal 10 Desember 1945 mulai menembaki kampung disekitar Lueng Putu. Meutareum yang menjadi pusat para Pemuda PRI pada tanggal 20 des mareka membakar gedung sekolah di Titeu serta kantor kehakiman




Karena meningkatnya aksi markas Ulee Balang.Pemda Aceh bersama TKR pada tanggal 21 Desember 1945 membentuk Markas Besar Rakayat Umum atau MBRU yang terdiri dari TKR, PRI, polisi, Pesindo,  dan organisasi massa lainnya untuk melawan markas Ulee Balang. Seluruh daerah Pidie mendirikan barisan perjuangan di bawah komando MBRU, akhirnya markas Ulee Balangpun meningkatkan serangannya pada tanggal 30 Desember markas Ulee Balang kembali menyerang Meutareum, Ilot, Lala dan Langga mengakibatkan kampung-kampung tersebut rusak berat dan kantor cabang pesindo hancur serta tewas ketua cabang Pesindo langga.
markas MBRU mengawali gerakan nya dengan mengeluarkan maklumat yang dituju kan kepada Rakyat isi nya antara lain jangan membakar rumah dan mengambil harta orang tawanan yang di tangkap harus di perlakukan dengan baik suatu seruan secara psikologis menarik simpati rakyat.

Dengan senjata yang cukup tangguh markas Ulee Balang sama seksekali tidak memperdulikan isi ultimatum dari Pemda Aceh pertempuran terus berlangsung terutama di Lam Meulo, Lueng Putu, Beureueh dan Keumala, Pasukan Pemda Aceh di bantu oleh pasukan sipil seperti Mujahiden, Pesindo dan pasukan rakyat milisi dari luar Pidie, pasukan gabungan ini memfokus diri kedaerah Lam Meulo sebab pemimpin markas Ulee Balang Teuku Sri Muda bentara pahlawan Cumbok Muhammad Daod bermarkas di sana dengan bertambahnya perang ini pemda Aceh khawatir akan bahaya yang mengancam terutama dalam kaitan dengan kekuatan perjuangan yang di butuh kan guna menghadapi NICA

Pada tanggal 6 January 1946 MBRU mengadakan sidang membahas situasi Pidie pada tanggal 8 Januari mareka kembali bersidang dihadiri oleh tokoh tokoh MBRU Syamaun Gaharu dari TKR. Teungku Muhammad Daod Beureueh dari Mujahidin, Ali hasyimi dari Pesindo Ismail Yakop tokoh PUSA tapi mewakili PNI Husen Yusuf dan Muhammadsyah dari TKR.
Setelah sidang pada tanggal 8 Januari itu Komite Nasional Daerah Aceh (KNIDA) juga pemerintah RI daerah Aceh (markas umum Daerah Aceh) mengeluarkan ultimatum dan maklumat kepada Markas Ulee Balang di Lammeulo ultimatum ini ditanda tangani oleh wakil Residen T.Ali Panglima Polem dan Syamaun Gaharu selaku ketua markas umum daerah Aceh.

sidang ini bertujuan untuk melakukan usaha gencatan senjata bagi kedua belah pihak yang berseteru sidang dihadiri oleh Husen Yusuf syamun gaharu Ali Hasyimi, Muhammad Syah, Ismail Yacob mewakili PNI dan Teungku Daod Beureueh dari Mujahidin tidak hadir.
Dalam maklumat tersebut Pemda Aceh dan markas umum daerah Aceh menyatakan antara lain. setelah diselidiki secara mendalam bahwa mareka yang mengadakan perlawanan terhadap mareka di Cumbok dalah Musuh Negara Rep Ulee Balanglik indonesia dan diperingatkan kepada yang sudah terpengaruh dengan mareka agar menghindar kalau tidak akan di kena kan hukuman sesuai dengan kesalahan nya.
Ultimatum yang mengiringi maklumat itu ianya memerintahkan mareka para pengkhianat negara RI agar hari Kamis tanggal 10 Januari 1946 Pukul 12 siang menghentikan perlawanan kalau tidak akan ditundukkan dengan kekerasan.

Dalam situasi genting dimana satu sama lain ingin nengakhiri dan memenangkan perang.bermacam macam strategi yang dilakukan kan.kemampuan dalam adu senjata hal yang penting.namun disisi kain adu kepintaran merebut simpati rakyat bagian dari strategi perang Mr SM Amin mengatakan bahwa menuduh "pengkhinat dan musuh RI" adalah strategi perang dengan nengeluarkan maklumat dan ultimatum dapat di ambil kesimpulan bahwa tindakan PUSA yang semula liar telah menjadi legal Ultimatum tidak di indahkan oleh Ulee Balang aksi mareka semakin meningkat daerah yang paling parah di landa aksi perlawanan mareka (Ulee Balang) adalah lammeulo.Lueng Putu Pante Raja Trieng Gadeng Merdu dll.

Ada dua faktor yang menentukan sehingga kaum Ulee Balang menolak ultimatum itu untuk menyerah.pertama kemampuan mareka untuk bertempur sampai menang mengingat persenjataan mareka jauh lebih kuat dari TPR apalgi dengn senjat yang di miliki oleh milisi dibawah MBRU
Kedua hukuman yang dijatuhkan kepada mareka justru oleh pemerintahan sendiri melalui maklumat itu sebagai pengkhianat dan musuh RI bahkan dipertegaskan lagi oleh kelompok lawan sebagai kaki tangan NICA pengkhianat agama dan bangsa tampaknya terlalu berat dirasakan oleh mereka dan besar sekali konsekwensinya mereka memperkirakan setelah mereka menyerah para pemimpin mareka akan dihadapkan kehadapan mahkamah revolusi dan dihukum mati mareka bertekad melawan sampai mati di medan pertempuran maka tak heran ketika diperiksa oleh M Nur El Ibrahimi, Teuku Daod Cumbok berkata 
Teungku tidak usah memeriksa saya lagi. Saya sudah tahu hukuman apa yang bakal ditimpakan ke atas diri saya. Saya tidak gentar menghadapi hukuman itu. Sekiranya saya menang, hukuman serupa akan saya jalankan ke atas kalian." (T. Daud Cumbok)

Setelah batas waktu habis maka TPR dengan didukung milisi rakyat di bawah komando MBRU mulai bertindak satu demi satu kota direbut dari tangan markas Ulee Balang. Serangan ke Lueng Putu dilakukan pada Tanggal 7 Januari 1946 dipimpin oleh Nyak Hasan dibantu oleh Tengku Ahmad Abdullah Tgk Husen. Tgk Zainal Abidin dan Peutua Ali dari jurusan selatan..

A Gani Mutiara, Syamaun Gaharu, Raja Uma Muh. Taher dan Daod Hasan dari jurusan timur akhir nya Lueng Putu jatuh ke tangan milisi MBRU Benteng Lueng Putu di bakar dan Teuku Laksamana Umar tewas dalam pertempuran tersebut dan oleh pengikut nya dibawa ke Teupin raya dan dimakam kan disana#bersambung
Kemudian seluruh kekuatan TPR dan milisi dibawah kendali MBRU dialih kan ke Lameulo markas besar Ulee Balang.pada tanggal 13 januari 1946 TPR dan MBRU berhasil merebut Cumbok meskipun di pertahan kan dengan sekuat tenaga.serangan di lakukan dari segala penjuru dengan di bantu oleh pasukan milisi tambahan dar luar Pidie.

Setelah dikepung oleh pasukan gabungan Pemda Aceh dan milisi milisi sipil bersenjata maka pada tanggal 13 januari 1945 markas besar Ulee Balang berhasil di rebut.tetapi pemimpin Ulee Balang Teuku muhammad Daod Cumbok beserta paukannya berhasil lolos dan menguasai perbukitan antara Pidie dan Aceh rayeuk.pada tanggal 16 januari 1945 melalui pertempuran kecil mareka erhasil ditangkap di kaki gunung Seulawah dan dibawa ke Sigli kemudian ke kantor cabang di garot dari garot dievakuasi ke sanngeu untuk diadili.

Mereka diperintahkan meneriakkan "Merdeka" sambil mengangkat sebelah tangan dengan kepalan tinju.tapi TeukuDaud Cumbok tetap pada penderiannya,menolak pekik MARDEKA....akhir nya mareka mengirim Daud Cumbok untuk menghadap TuhanNya dengan sebutir peluru "merah putih." dengan eksekutor teungku Ahmad abdullah. berbaring ditepi kUlee Balangur mengucap dua kalimah syahdat seraya memberi aba aba kepada algojo yang mau menghukum mati dirinya..

Dengan demikian peristiwa Cumbok telah berlangsung selama 2 bulan secara fisik telah dapat dipatahkan namun tidak berarti berbagai akibat yang timbul seperti masalah harta rampasan peninggalan Ulee Balang perlindungan terhadap famili atau keluarga bahkan lanjutan perang saudara ini segera nampak kembali meski pun tdk sehebat yang pertama rupanya serum yang di suntik oleh Belanda dan Snouc horgronje yakni penyakit pecah belah adu domba masih saja terjangkit di masyarakat Aceh dan tidak sembuh dengan berakhir nya perng Cumbok.pada awal Februari 1946 Husen Mujahed mebentuk Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) di Idi, dengan mana ia bermaksud untuk membersihkan semua sisa ulebalang di seluruh Aceh.dalam aksi berdarah mareka membantai dan membunuh TR sabi anak semata wayang Tgk chik ditunog dan Cut mutiaserta Ulee Balang lainya yang ridak terkait dengan Cumbok.

Dengan segera Aceh Timur mengalami aksi pembersihannya. Kemudian pasukannya bergerak ke utara, dan akhirnya menekan Kutaraja karena pemerintah tidak mampu menghentikannya. Di sepanjang jalan ke Kutaraja, ratusan keluarga ulebalang dan para pemimpin nasionalis dibunuh atau dikirim ke tempat tahanan di Aceh Tengah, dan anggota-anggota PUSA ditempatkan pada jabatan-jabatan yang ditinggalkan mereka gerakan TPR menyebabkan berdirinya rezim PUSA di Aceh setelah semua pejabat bukan-PUSA diberhentikan dari pemerintahan lokal, dan sebagai gantinya diangkatlah pejabat yang berorientasi pada PUSA.


Beberapa Ulee Balang yang tewas dalam peristiwa Cumbok diantara nya.
1.Teuku Daod Cumbok
2.Pocut Umar keumangan
3.Teuku umar njong
4.Teuku Muda Dalam Bambi uno
5.Teuku M Ali samaidra
6.Teuku Ali ie leUlee Balangeu
7. Teuku Hamid gigieng
8.Teku cut Hasan.keluarga Ulee Balang dari meuraxa
9.Teuku Muh Said Cunda
10.teuku banta Ahmad glp payong
11.Teuku Husen simpang Ulim
12.Teuku pakeh sulaiman Pidie
13.Teuku Muhammad Keumangan
14.Teuku Hasan keumala.
15.Teuku chik Meureudu.
15.Teuku sulong Meureudu dll
(Pemberontak kaum Ulee Balang Prof. Nazaruddin. Sm Amin Isa Sulaiman dkk Aceh dari komplik ke damai dll)


Powered by Blogger.